Lukman.NET

Sebuah blog perjalanan seorang pemuda.

Tugas Soft Skill Ilmu Sosial Dasar

TUGAS MATA KULIAH ILMU SOSIAL DASAR
“KONFLIK ANTAR REMAJA”

Disusun Oleh:


       Nama                        :  Lukman Hakim N.
       NPM                         :  34410078
       Kelas                         : 2-ID05
     Tugas                        : Ilmu Sosial Dasar





LABORATORIUM TEKNIK INDUSTRI DASAR
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2011








BAB I
PENDAHULUAN

1.                  Latar Belakang
Kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini tengah menghadapi ancaman serius berkaitandengan mengerasnya konflik-konflik dalam masyarakat, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Konflik-konflik itu pada dasarnya merupakan produk dari sistem kekuasaan Orde Baru yang militeristik, sentralistik, dominatif, dan hegemonik. Sistem tersebut telah menumpas kemerdekaan masyarakat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam wilayah sosial, ekonomi, politik, maupun kultural. Keajemukan bangsa yang seharusnya dapat kondusif bagi pengembangan demokrasi ditenggelamkan oleh ideologi harmoni sosial yang serba semu, yang tidak lain adalah ideologi keseragaman. Bagi negara kala itu, kemajemukan dianggap sebagai potensi yang dapat mengganggu stabilitas politik. Karena itu negara perlu menyeragamkan setiap elemen kemajemukan dalam masyarakat sesuai dengan karsanya, tanpa harus merasa telah mengingkari prinsip dasar hidup bersama dalam kepelbagaian. Dengan segala kekuasaan yang ada padanya negara tidak segan-segan untuk menggunakan cara-cara koersif agar masyarakat tunduk pada ideologi negara yang maunya serba seragam, serba tunggal. Perlakuan negara yang demikian karena diapresiasi dan diinternalisasi oleh masyarakat dalam kesadaran sosial politiknya. Pada gilirannya kesadaran yang bias stateitu mengarahkan sikap dan perilaku sosial masyarakat kepada hal-hal yang bersifat diskriminatif, kekerasan, dan dehumanisasi.

Hal itu dapat kita saksikan dari kecenderungan xenophobia dalam masyarakat ketika berhadapan dengan elemen-elemen pluralitas bangsa. Penerimaan mereka terhadappluralitas kurang lebih sama dan sebangun dengan penerimaan negara atas fakta sosiologis-kultural itu. Karena itu, subyektivitas masyarakat kian menonjol dan pada gilirannya menafikan kelompok lain yang dalam alam pikirnya diyakini "berbeda". Dari sinilah konflik-konflik sosial politik memperoleh legitimasi rasionalnya. Tentu saja untuk hal ini kita patut meletakkan negara sebagai faktor dominan yang telah membentuk pola pikir dan kesadaran antidemokrasi di kalangan masyarakat.Ketika negara mengalami defisit otoritas, kesadaran bias state masyarakat semakin menonjol dalam pelbagai pola perilaku sosial dan politik. Munculnya reformasi telah menyediakan ruang yang lebih lebar bagi artikulasi pendapat dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Masalahnya, artikulasi pendapat dan kepentingan itu masih belum terlepas dari kesadaran bias state yang mengimplikasikan dehumanisasi. Itulah mengapa kemudian muncul pelbagai bentuk tragedi kemanusiaan yang amat memilukan seperti kita saksikan dewasa ini di Aceh, Ambon, Sambas, Papua, dan beberapa daerah lain. Ironisnya lagi, ternyata ada the powerful invisible hand yangturut bermain dalam menciptakan tragedi kemanusiaan itu.

2.                  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah tentang verisi konflik ini bertujuan agar mahasiswa/i dapat memahami definisi konflik, macam-macam konflik dan penyelesaian suatu konflik. Konflik yang terjadi internal ataupun external sehingga mahasiswa/i dituntut agar dapar menyelesaikan suatu konflik yang terjadi saat sekarang.














BAB II
PEMBAHASAN


1.                  Pengertian Konflik dan Jenis Konflik
Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.Konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi di masyarakat, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat.Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yangtidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.

·           Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.

·           Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut.

·           Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada.

·           Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.

·           Konflik antara organisasi
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan. Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

 “ Konflik Interpersonal, Konflik Antar Remaja “

Remaja adalah individu yang telah hidup bertahun-tahun dengan ibu bapa dan kemudian beralih kepada lingkungan yang lebih luas meliputi rakan sebaya, guru-guru serta orang lain.Peralihan zaman alam kanak-kanak menuju alam dewasa adalah suatu masa yang penting kepadaremaja kerana pada masa ini mereka akan menentukan konsep dirinya atau siapakah dirinya atausuatu proses menentukan konsep jati diri pada dirinya. Rogers (1985) menyatakan antaraperubahan nyata yang berlaku pada peringkat remaja ialah mereka mula pandai berfikir, menilaiperasaan, mengkaji skrip hidup ibu bapa, mencuba sesuatu yang baru dan berkhayal tentangkeindahan dunia kehidupan orang dewasa yang sukar dicapai baginya. Perubahan emosi danfikiran ini menimbulkan kegelisahan pada remaja kerana untuk berdikari mereka tidak mampudan untuk mengikut jejak langkah orang dewasa juga tidak berupaya. Keadaan ini menimbulkankonflik nilai dalam dirinya. Mereka mengalami rasa gembira dan kadangkala kesunyian,berkahayal dengan orang yang dikaguminya, dan cenderung mencontohi dalam pelbagai perkara,seperti cara berpakaian, cara bergaul dan cara berfikir. Remaja sering dikaitkan dengan masalahwalaupun daripada sifat semula jadi, remaja adalah zaman yang penuh bertenaga dan mempunyai potensi diri yang cemerlang. Masalah sosial yang membabitkan remaja hari ini benar-benar membimbangkan. Ketidak upayaan dan kegagalan mengatasi halangan ini menimbulkan berbagai masalah. Maraknyatingkah laku agresif akhir-akhir ini yang dilakukan kelompok remaja merupakan sebuah kajian yang menarik untuk dibahas. Perkelahian antar pelajar yang pada umumnya masih remaja sangat merugikan dan perlu upaya untuk mencari jalan keluar masalah ini.
Di jaman yang serba instan ini menyebabkan kesenjangan antara kaya dan miskinsemakin jelas bedanya. bisa saja seorang pelajar melampiaskan kekesalannya karena tidak mempunyai sesuatu dengan mencuri atau merampas atau dengan cara yang lain. Di beberapa tahun ini kecenderungan tersebut meningkat dari hanya sebatas personal menjadi identitas kelompok yang berakibat maraknya tawuran, kerusuhan, dan lain sebagainya. Karena mungkin adanya keinginan yang tak terpenuhi, sehingga beberapa pelajarcenderung bertindak anarkis. Mereka biasanya melakukan tawuran hanya dikarenakan alasan alasan yang sepele seperti saling mengejek, rebutan suatu barang, rebutan pacar,dan lain sebagainnya.
Sebagai contoh nyata masalah tawuran antar pelajar dengan siswa, berikut di kutip dari harian kompas :
Tawuran SMA 6 Jakarta dengan wartawan pada Senin (19/9) berakhir ricuh dan membuat pihak sekolah terpaksa meliburkan anak didiknya selama 5 hari.  Kasus ini bermula saat puluhan siswa mengkeroyok reporter Trans 7 yang bernama Oktaviardi, yang saat itu sedang meliput tawuran antara siswa SMA 6 dan Siswa SMA 70 di daerah Mahakam. Pimpinan SMA Negeri 6 merasa gerah dengan pemberitaan di media seputar “tawuran  sma 6″ yang melibatkan siswa-siswanya dengan wartawan. Mereka menganggap berita yang beredar tidak berimbang dab berencana mengadukan masalah ini ke Dewan Pers.
Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto membantah bahwa pihaknya tak melakukan tindakan dalam menghentikan sejumlah kasus tawuran yang sering terjadi di SMA 6 dan SMA 70 Jakarta. Namun, ia membenarkan bahwa pertikaian antarkedua sekolah tersebut memang telah terjadi puluhan tahun.
Imam mengajak sejumlah pihak mencari akar permasalahan yang tak kunjung selesai dari sikap anarkis para pelajar tersebut. Menurut Imam, itu bukan hanya tugas Polri untuk menelusurinya.
“Jangan bilang tidak ada tindakan. Pihak terkait sudah melakukan upaya-upaya. Saya melihat record Jaksel ini terkait dengan pemerintah kota bekerja sama dengan Kemdiknas. Bahkan, sampai membuat posko terpadu,” ujar Kombes Imam di Gedung Polres Jakarta Selatan, Senin (19/9/2011) malam.
“Akar tawuran sma 6 itu harus kita lihat. Itu kan sudah puluhan tahun. Saya belum tahu, tapi analisis saya apakah pertentangan antara SMA 6 dan SMA 70 diwariskan. Itu yang harus dicari. Itu bukan hanya tugas Polri, tetapi semua pihak,” tuturnya.
Keributan terjadi saat puluhan wartawan menggelar aksi protes di depan SMA 6, Bulungan, Jakarta Selatan. Sejumlah pelajar menyerang dan melakukan pemukulan terhadap dua wartawan saat aksi sedang berlangsung.
Keributan terjadi saat fotografer Media Indonesia, Panca mengalami tindakan pemukulan saat dia sedang mengambil gambar aksi protes ini. Salah seorang wartawan Rakyat Merdeka yang coba membantu juga ikut terkena pukulan oleh puluhan pelajar yang tidak ingin sekolah mereka diprotes.
Aksi protes digelar puluhan wartawan terkait dengan pemukulan yang dilakukan terhadap pelajar SMA 6 saat terjadi tawuran di depan sekolah mereka dengan SMA 70 Bulungan. Wartawan Trans7, Oktaviardi, yang kebetulan sedang berada di lokasi tawuran, menjadi korbannya saat sedang mengambil gambar.
Puluhan pelajar yang melihatnya langsung mengerubungi Oktaviardi dan mengambil paksa kaset liputannya. Saat ini kejadian yang dialami Okta sudah dilaporkan ke polisi. Tradisi tawuran SMA 6 juga dibenarkan oleh Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mahfudz Siddiq yang merupakan alumnus sekolah itu pada tahun 1984. Hal ini ia sampaikan pada Senin sore saat mengetahui peristiwa kekerasan terhadap wartawan. Salah satu alasan sering terjadinya tawuran sma 6, kata Mahfudz, karena lingkungan SMA 6 yang dikepung mal dan segala aktivitas yang mengganggu proses belajar mengajar. Faktor lain adalah solidaritas antar pelajar.

Kerugian yang disebabkan oleh tawuran tidak hanya menimpa korban dari tawuran saja, tetapi juga mengakibatkan kerusakan di tempat mereka melakukan aksi tersebut. Tentunya kebanyakan dari para pelaku tawuran tidak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka timbulkan. Biasanya mereka hanya lari setelah puas melakukan tawuran. Akibatnya masyarakat menjadi resah terhadap kegiatan pelajar remaja. Keresahan tersebut sendiri merupakan kerugian dari tawuran yang bersifat psikis. Keresahan ini akan menimbulkan rasa tidak percaya terhadap generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan bangsa. Dari segi politik Permasalahan tersebut, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bukan merupakan permasalahan yang baru saja muncul. Di salah satu kota besar di Indonesia seperti Jakarta misalnya, terdapat sekolah menengah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan yang sejak dahulu ‘rutin’ melakukan tawuran. Hingga kini sekolah tersebut menjadi buah bibir pelajar sekolah menengah di Jakarta. Dalam sekolah tersebut, tawuran tidak hanya terjadi antara sekolah tersebut dengan sekolah lainnya, tetapi juga sering terjadi perkelahian internal sesama pelajar di sekolah tersebut terutama yang bersifat senioritas., hal tersebut dimanfaatkan oleh para pemegang otoritas untuk melanggengkan status quo-nya.




BAB III
ANALISIS DAN SOLUSI

3.1    Analisis
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungandi dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisieksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapatsedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
Faktor internal
Remaja yang terlibatperkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasipadasituasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragamanpandangan, budaya, tingkatekonomi, dan semua rangsang darilingkungan yang makinlama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiaporang. Tapipada remaja yang terlibatperkelahian, mereka kurang mampu untukmengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya.

Indikatornya
Mereka biasanya mudah putus asa, cepatmelarikan diridarimasalah, menyalahkanorang /pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkatuntuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwamereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak pekaterhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Merekabiasanya sangat membutuhkan pengakuan.

 Faktor keluarga
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelasberdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajarbahwa kekerasan adalahbagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajarkalau ia melakukan kekerasan pula.Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuhsebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik.

Indikatornya
Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara totalterhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. Cenderung pasiftidak respon terhadap apa yang ada disekitarnya, serta tidak memiliki inisiatif untukbertindak sendiri untuk lebih mandiri.

 Faktor sekolah
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidiksiswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitaspengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untukbelajar(misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidakrelevan denganpengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebihsenang melakukan kegiatan di luarsekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itumasalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnyaguru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokohotoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentukberbeda) dalam “mendidik” siswanya.

3.2       Solusi
            Untuk mengatasi masalah tawuran antar pelajar, di sini penulis akan mengambil duateori. Yang pertama adalah dari“Kartini Kartono”. Dia menyebutkan bahwa untukmengatasi tawuran antar pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya adalah:
  1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri, dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
  2. memberi kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
  3. memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan pengembangan bakat dan potensi remaja.

Teori yang kedua adalah dari“Dr yfoos, dia menyebutkan untuk mengatasitawuranpelajaratau kenakalan remaja pada umumnya harus diadakan program yang meliputiunsur-unsur berikut:
  1. program harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedarberfokus pada kenakalan
  2. program harus memilikikomponen-komponen ganda, karena tidakada satu pun komponen yang berdiri sendiri sebagai peluru ajaib yang dapat memerangi kenakalan
  3. program harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah belajar dan berperilaku
  4. sekolah memainkan peranan penting
  5. upaya-upaya harus diarahkan pada institusional daripada pada perubahan individual,yang menjadi titik berat adalah meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak yangkurang beruntung
  6. memberi perhatian kepada individu secara intensif dan merancang program unik bagisetiap anak merupakan faktor yang penting dalam menangani anak-anak yang berisikotinggi untuk menjadi nakal
  7. manfaat yang didapatkan dari suatu program sering kali hilang saat progr am tersebutdihentikan, oleh karenanya perlu dikembangkan program yang sifatnyaberkesinambungan.


REFRENSI

Facebook Twitter RSS